Rabu, 22 Juni 2011

Seni Lukis

Aliran Seni Lukis

Aliran seni lukis
1. Realisme
Realisme di dalam seni rupa berarti usaha menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan embel-embel atau interpretasi tertentu. Maknanya bisa pula mengacu kepada usaha dalam seni rupa unruk memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan hal yang buruk sekalipun


2. Surrealisme
Lukisan dengan aliran ini kebanyakan menyerupai bentuk-bentuk yang sering ditemui di dalam mimpi. Pelukis berusaha untuk mengabaikan bentuk secara keseluruhan kemudian mengolah setiap bagian tertentu dari objek untuk menghasilkan sensasi tertentu yang bisa dirasakan manusia tanpa harus mengerti bentuk aslinya. Salah satu tokoh yang populer dalam aliran ini adalah Salvador Dali.



3. Kubisme
Adalah aliran yang cenderung melakukan usaha abstraksi terhadap objek ke dalam bentuk-bentuk geometri untuk mendapatkan sensasi tertentu. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Pablo Picasso.


4. Romantisme
Merupakan aliran tertua di dalam sejarah seni lukis modern Indonesia. Lukisan dengan aliran ini berusaha membangkitkan kenangan romantis dan keindahan di setiap objeknya. Pemandangan alam adalah objek yang sering diambil sebagai latar belakang lukisan.Romantisme dirintis oleh pelukis-pelukis pada zaman penjajahan Belanda dan ditularkan kepada pelukis pribumi untuk tujuan koleksi dan galeri di zaman kolonial. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Raden Saleh.


5. Abstraksionisme
Adalah usaha untuk mengesampingkan unsur bentuk dari lukisan. Abstraksi berarti tindakan menghindari peniruan objek secara mentah. Unsur yang dianggap mampu memberikan sensasi keberadaan objek diperkuat untuk menggantikan unsur bentuk yang dikurangi porsinya.


6. Ekspresionisme
Berusaha menampilkan emosional atau sensasi dari dalam di hubungkan dengan tragedi atau apa yang terjadi. Definisi lain adalah kebebasan distorsi bentuk dan warna untuk melahirkan emosi ataupun menyatakan sensasidari dalam (baik objeknya maupun senimannya).


7. Impresionisme
Berusaha menampilkan kesan yang di tangkap dari objek. Yang menjadi masalah dalam hal teknik adalah Sebagian kaum impresionis sangat mementingkan warna yang di timbulkan oleh bias cahaya,namun akdemisi mementingkan garis.






8. Fauvisme
Nama faufisme diberikan oleh seoramg kritikus bernama LouisVauxceles yang terkejut melihat liarnya sekelompok artis muda yang sedang berpameran di salon d’Automne, tahun 1905. Menurut matisse yang menjadi tokoh dalam aliran ini, Faufisme adalah suatu reaksi terhadap post impressionime yang mempunyai tekni yanglamban dan lambat, dan jugamempunyai teoridevision yang kurang tepat. Aliran ini masih di pengaruhi oleh teorinya cezane tentang impressionisme. Bahwa tatanan warna masih harus mempunyai struktur yang kuat, yang di bangun hubungan interaksi antara warna-warna tertentu. Faufisme masih memakai teori initetapi lebih di kembangkan lagi, ialahbahwa warna-warna itu jika diamati, kemudianharus di padatkan lagi dan di olah lagi. Disamping itu juga menentukan sikap bahwa tidak ada pendahuluan secara teoritis terhadap warnaagar coco untuk suatu pembentukan objek. Tokoh yang terkenal dlam aliran ini adalah Matisse.



9. Naturalisme
Seni lukis yang sangat mengandalkan skil atau ketrampilan tangan sehingga hasilnya terlihat alami, persis seperti fotografi berwarna.


10. Dadaisme
Ciri khas dari karya dadaisme adalah sini dan tidak mau ilusi atau ketiadaan ilusi. Yang kemudian diungkapkan dalam bentukmain-main, mistis, sesuatu yang menimbulkan goncangan jiwa yang mendadak,juga ada tanda-tanda merusak yang telah ada, sesuai dengan sifat lingkungan perang.



• Beberapa Pelukis Indonesia antara lain sebagai berikut.* Affandi* AgusDjaya* BasukiAbdullah* DjokoPekik* Dullah* HendraGunawan* Jeihan* Kartika Affandi* Lee Man Fong* Otto Djaya* Popo Iskandar* Raden Saleh* S.Sudjojono* Srihadi* Sri Warso Wahono



Selasa, 21 Juni 2011

Dialektika

Teori Dialektika Hegel


===   George Wilhein Friederich Hegel  ( GWF Hegel ) ( 1770 – 1831 ) , merupakan filsuf dari Jerman . Dia sangat terkenal dalam dunia ilmu social , karena melahirkan teori yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan social / kehidupan masyarakat.
          GWF Hegel dalam membahas teorinya , berpedoman pada  3 tokoh ilmuwan besar yang sekaligus mengilhami teori yang dilahirkannya .
          Ke 3 ( tiga ) ilmuwan tersebut , adalah  :
1.      Immanuel Kant .
2.      Johan Gottlieb Fichte .
3.      Friedrich Wilhelm Joseph Schelling .
===   Prinsip yang melandasi teori Hegel .
GWF Hegel dalam membangun teorinya , selalu berpedoman pada 3 ( tiga ) ilmuwan besar tersebut di Atas    , sehingga Hegel dalam menciptakan dan membangun teorinya , berpedoman pada prinsip - prinsip sebagai berikut  :
1.      IDEALISME  .
Berdasarkan prinsip ini , Hegel membangun teorinya dengan mengutamakan pemikiran yang mengutamakan ide / gagasan , sehingga ide dan gagasan itu merupakan sumber kebenaran .
2.      ROH MUTLAK .
Pada prinsip ini , Hegel menjunjung tinggi adanya kebebasan / ketidakterikatan dan melahirkan konsepsi social , politik dalam suatu negara .
Prinsip Roh Mutlak , dipakai Hegel berdasarkan pendekatan Filsafat , Agama dan Seni .
3.      ESSENSIALISME .
Prinsip ini menjelaskan bahwa pendidikan itu didasarkan pada nilai – nilai kebudayaan yang telah ada , sehingga dapat memberikan kestabilan dan nilai – nilai terpilih yang punya tata / ketentuan yang jelas .
4.      REALISME .
Prinip ini  menjelaskan bahwa pendidikan itu didasarkan pada kenyataan – kenyataan yang ada ( nyata  / realis ) .
===   Hasil Pemikiran Hegel .
Hegel sebagai filsuf besar dari Jerman , menghasilkan teori yang dikenal dengan istilah DIALEKTIKA HEGEL . Teori ini lahir berdasarkan 3 komponen , yatu filsafat Agama , Seni dan lahir berdasarkan prisnsip idealisme dan roh mutlak .
          Teori Dialektika Hegel itu , adalah  :
1.      THESIS .
Teori ini didasarkan pada adanya ide / gagasan .
Artinya   :   Suatu pernyataan / pendapat yang diungkapkan untuk suatu keadaan
                   tertentu
Contoh         :   Tanah ini basah karena hujan .
                   Perutku kenyang karena sudah makan .
2.     ANTITHESIS .
Teori ini berdasarkan pada  alam / Natura
Artinya   :   Suatu pernyataan / pendapat yang menyanggah terhadap suatu pernyataan
                   atau suatu pendapat . 
Contoh   :   Hari ini tidak hujan .
3.    SINTESA .
Dialektika ini ada berdasarkan  ROH MUTLAK .
Artinya   :   Suatu pernyataan / pendapat berdasarkan rangkuman yang
                   mennggabungkan dua pernyataan yang berlawanan , sehingga muncul
                   pernyataan / pendapat  yang baru .
 Contoh :    Oleh kaena hari ini tidak hujan , maka tanah ini tidak basah kena hujan .

===   HUKUM SOSIAL .
Dialektika Hegel yang berisi Thesis , Antithesis dan Sintesa , disebut juga dengan istilah HUKUM SOSIAL ( Dialektika Sosial ) , sehingga dalam proses kehidupan di masyarakat , akan berlaku Thesis , Antithesis dan Sintesa , dan lebih kongkritnya bahwa dalam  kehidupan masyarakat akan muncul PRO  ( Thesis ) , KONTRA  ( Antithesis ) dan SOLUSI / PEMECAHAN ( Sintesa ) .
Oleh sebab itu Dialektika Hegel / Dialektika Sosial tersebut sangat berperan dalam pemahaman ilmu – ilmu social , seperti IPS dan dapat pula diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara  , sehingga akan menjadi warga negara yang baik , warga negara yang bertangung jawab .


===   Teori Hegel yang disebut dengan istilah Teori Dialektika / Hukum Sosial , yang melipti Thesis , Antithesis dan Sintesa , dapat dan ada relevansinya dalam pendidikan di Indonesia , karena  :
          Teori Hegel ( Dialektika Hegel ) dapat diterapkan dalam pengembangan dan pemajuan
pendidikan di Indonesia , dan hal ini sudah diterapkan  oleh Perguruan Taman Siswa  ,
          yang dipelopori oleh Ki Hajar Dewantoro .
Sehingga dengan hal tersebut , ternyata Teori Hegel ( Dialektika Hegel )_memiliki relevansi bagi dunia pendidikan di Indonesia .
Relevansi teori hegel tersebut nampak pada asas – asas Perguruan Taman Siswa , yang dalam salah satu asas Taman Siswa sesuai dengan prinsip essensialisme hegel dan prinsip Roh Mutlak  .
Adapun asas – asas Perguruan Taman Siswa , antara lain  :
1.    Bahwa setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sendiri dengan terbitnya persatuan dalam perikehidupan umum .  ( Prinsip Roh Mutlak )
2.    Bahwa pengajaran harus member pengetahuan yang bermanfaat dalam kehidupan lahir dan batin , sehingga dapat memerdekan diri . ( Prinsip Roh Mutlak ).
3.    Bahwa pengajaran harus berdasarkan pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri . ( Prinsip Essensualisme ) .
4.    Asas  Kemerdekaan  ( Prinsip Roh Mutlak ).
5.    Asas  Kebudayaan ( Prinsip Essensialisme )
6.    Asas Kodrat alam
7.    Dan lain – lain .
Berdasarkan asas Perguruan Taman Siswa (  terutama asas Kebudayaan , asas Kemerdekaan , asas bahwa pengajaran harus berdasarkan pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri ) , maka lahirlah Sistem Among sebagai Metode pendidikan .
Adapun System Among tersebut adalah :

1.    Ing Ngarso Sung Tuladha ..
Artinya        :    Ketika kita ada di depan ( jadi pemimpin / tokoh ) , kita harus dapat
memberi contoh yang baik ( teladan yang baik ) yang mengandung pendidikan  kepada anak didik kita / masyarakat sekitar kita .

2.    Ing Madya  Mangun Karsa .
Artinya    :    Ketika kita berada di tengah – tengah masyarakat / anak didik , kita harus
dapat membangkitkan masyarakat / anak didik kita  untuk selalu terus maju / berkarya / belajar .
3.    Tut Wuri Handayani .
Artinya    :   Ketika kita di belakang  , kita harus dapat mendorong dan member motivasi masyarakat / anak didik kita untuk selalu berusaha / berkarya     dan selalu belajar .
                              
===   Teori Dialektika Hegel ( Thesis , Antithesis dan Sintesa ) dapat diterapkan dalam mengembangkan dan memajukan pendidikan di Indonesia .
          Penerapan tersebut , dapat dilakukan dalam hal  :
1.     Proses Belajar .
      Dasar pelaksanaan  Prinsip Idealisme .
                Proses belajar sesuatu diawali dari hal – hal yang kecil dan dekat dengan diri kita
                sendiri  dan semakin lama semakin luas dan mendalam , hal ini seperti prinsip belajar
                spiral ,  dari  mikrokosmos ke makrokosmos .
2.     Pengembangan kurikulum .
Untuk mengembangkan kurikulum , maka kurikulum itu harus berpangkal / berpedoman pada landasan idiil  dan organisasi yang kuat .

Sehingga dalam pengembangan kurikulum harus didasarkan pada idealisme dan roh mutlak serta Essensialisme .
3.     Pembelajaran Sejarah .
Teori Dialektika Hegel dapat digunakan dalam proses pembelajaran Sejarah ( IPS Sejarah ) , karena dalam dialektika hegel dikembangkan metode sejarah .
Metode Sejarah yang dikembangkan Hegel , meliputi  :
a.       Sejarah Asli
 Dalam metode ini yang dipelajasi berupa perbuatan , peristiwa dan keadaan 
 sejarah.
b.      Sejarah Reflektif .
 Pembelajsaran sejarah dilakukan dengan cara bahwa penyajian sejarah tidak  
 mengenal batas waktu , sehingga dapat melampaui batas waktu .
c.       Sejarah Filsafati .
 Dalam metoe ini , sejarah diajarkan sebagai konsepsi sederhana tentang RASIO ,
 sehingga kita dapat mengenal sejarah dunia .
 Berdasarkan metode sejarah filsafati , kita dapat membuka cakrawala intelektual
 kita   secara luas , sehingga kita dapat mensikapi sejarah itu sebagai perwujudan /
 perubahan kondisi masyarakat ke depan , hal ini karena filsafati sejarah itu
 didasarkan pada Roh Mutlak ( Roh dunia , rasio manusia dan kebebasan
 memperoleh makna dan posisi yang nyaman dalam konteks sejarah ) .
4.     Pelajaran Bahasa .
Dialektika Hegel dapat pula diterapkan dalam pembelajaran Bahasa ( Bahasa Inggris , Bahasa Indonesia , Bahasa Daerah ) , terutama dalam materi menulis ( cara menulis ) , dengan tipe – tipe yang berbeda sesuai jenisnya .
Dalam menulis sesuatu  ( teks , artikel , kajian , report dan lain – lain ) selalu ada thesis , antithesis dan sintesa . 
          5.   Bimbingan  Konseling
                Teori Hegel dapat pula dipergunakan dalam Porses Bimbingan Konseling bagi seorang siswa .
                Pelaksanaan teorinya diawali dengan thesis yang berupa keadaan seorang anak yang mengalami
                masalah  , dilanjutkan dengan antiesa yang berupa petunjuk / bimbingan guru untuk mengubah                   pribadi dan prilaku anak , sehiungga muncul sintesa baru yaitu perubahan sikap dan prilaku anak
                dan seterusnya  ......

apa itu dramaturgi?

DRAMATURGI


 SEJARAH

1945:Tahun dimana, Kenneth Duva Burke(May 5, 1897 – November 19, 1993) seorang teoritis literatur Amerika dan filosof memperkenalkan konsep dramatisme sebagai metode untuk memahami fungsi sosial dari bahasa dan drama sebagai pentas simbolik kata dan kehidupan sosial. Tujuan Dramatisme adalah memberikan penjelasan logis untuk memahami motif tindakan manusia, atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan (Fox, 2002).Dramatisme memperlihatkan bahasa sebagai model tindakan simbolik ketimbang model pengetahuan (Burke, 1978). Pandangan Burke adalah bahwa hidup bukan seperti drama, tapi hidup itu sendiri adalah drama 1959: The Presentation of Self in Everyday Life Tertarik dengan teori dramatisme Burke, Erving Goffman (11 Juni 1922 – 19 November 1982), seorang sosiolog interaksionis dan penulis, memperdalam kajian dramatisme tersebut dan menyempurnakannya dalam bukunya yang kemudian terkenal sebagai salah satu sumbangan terbesar bagi teori ilmu sosial The Presentation of Self in Everyday Life. Dalam buku ini Goffman yang mendalami fenomena interaksi simbolik mengemukakan kajian mendalam mengenai konsep Dramaturgi.

INI BUKAN DRAMATURGI ARISTOTELES

 Istilah Dramaturgi kental dengan pengaruh drama atau teater atau pertunjukan fiksi diatas panggung dimana seorang aktor memainkan karakter manusia-manusia yang lain sehingga penonton dapat memperoleh gambaran kehidupan dari tokoh tersebut dan mampu mengikuti alur cerita dari drama yang disajikan.  Meski benar, dramaturgi juga digunakan dalam istilah teater namun term dan karakteristiknya berbeda dengan dramaturgi yang akan kita pelajari. Dramaturgi dari istilah teater dipopulerkan oleh Aristoteles.  Sekitar tahun 350 SM, Aristoteles, seorang filosof asal Yunani, menelurkan, Poetics, hasil pemikirannya yang sampai sekarang masih dianggap sebagai buku acuan bagi dunia teater. Dalam Poetics, Aristoteles menjabarkan penelitiannya tentang penampilan/drama-drama berakhir tragedi/tragis ataupun kisah-kisah komedi. Untuk menghasilkan Poetics Aristoteles meneliti hampir seluruh karya penulis Yunani pada masanya. Kisah tragis merupakan obyek penelitian utamanya dan dalam  Poetic juga Aristoteles menyanjung Kisah Oedipus Rex, sebagai kisah drama yang paling dapat diperhitungkan.  Meskipun Aristoteles mengatakan bahwa drama merupakan bagian dari puisi, namun Aristoteles bekerja secara utuh menganalisa drama secara keseluruhan. Bukan hanya dari segi naskahnya saja tapi juga menganalisa hubungan antara karakter dan akting, dialog, plot dan cerita. Ia memberikan contoh-contoh plot yang baik dan meneliti reaksi drama terhadap penonton. Nilai-nilai yang dikemukakan oleh Aristoteles dalam maha karyanya ini kemudian dikenal dengan “aristotelian drama” atau drama ala aristoteles, dimana deus ex machina[1] adalah suatu kelemahan dan dimana sebuah akting harus tersusun secara efisien. Banyak konsep kunci drama, sepertianagnorisis[2] dan katharsis[3], dibahas dalam Poetica. Sampai sekarang “aristotelian drama” sangat terlihat aplikasinya pada tayangan-tayangan tv, buku-buku panduan perfilman dan bahkan kursus-kursus singkat perfilman (dramaturgi dasar) biasanya sangat bergantung kepada dasar pemikiran yang dikemukakan oleh Aristoteles. 

DRAMATURGI: BENTUK LAIN DARI KOMUNIKASI

 Bila Aristoteles mengungkapkan Dramaturgi dalam artian seni. Maka, Goffman mendalami dramaturgi dari segisosiologi Seperti yang kita ketahui, Goffman memperkenalkan dramaturgi pertama kali dalam kajian sosial psikologis dan sosiologi melalui bukunya, The Presentation of Self In Everyday Life. Buku tersebut menggali segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Cara yang sama ini berarti mengacu kepada kesamaan yang berarti ada pertunjukan yang ditampilkan. Bila Aristoteles mengacu kepada teater maka Goffman mengacu pada pertunjukan sosiologi. Pertunjukan yang terjadi di masyarakat untuk memberi kesan yang baik untuk mencapai tujuan.  Tujuan dari presentasi dari Diri – Goffman ini adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Bila seorang aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk membawa penonton untuk mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut. Ini dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi. Kenapa komunikasi? Karena komunikasi sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan.  Bila dalam komunikasi konvensional manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang lain mengikuti kemauan kita. Maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang kita mau.   Perlu diingat, dramatugis mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut.Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada “kesepakatan” perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. Bermain peran merupakan salah satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut.    Bukti nyata bahwa terjadi permainan peran dalam kehidupan manusia dapat dilihat pada masyarakat kita sendiri. Manusia menciptakan sebuah mekanisme tersendiri, dimana dengan permainan peran tersebut ia bisa tampil sebagai sosok-sosok tertentu.  Hal ini setara dengan yang dikatakan oleh Yenrizal (IAIN Raden Fatah, Palembang), dalam makalahnya “Transformasi Etos Kerja Masyarakat Muslim: Tinjauan Dramaturgis di Masyarakat Pedesaan Sumatera Selatan” pada Annual Conference on Islamic Studies, Bandung, 26 – 30 November 2006:  “Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat yang mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak kehidupan. Masyarakat yang tinggal dalam komunitas heterogen perkotaan, menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai komunitas yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya. Begitu juga dengan masyarakat homogen pedesaan, menciptakan panggung-panggung sendiri melalui interaksinya, yang terkadang justru membentuk proteksi sendiri dengan komunitas lainnya.”

DRAMATURGIS : KITA SEBENARNYA HIDUP DI ATAS PANGGUNG

 Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang lain. Disinilah dramaturgis masuk, bagaimana kita menguasai interaksi tersebut.  Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”.   Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut.  Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan pertunjukan. Kelengkapan ini antara lain memperhitungkan setting, kostum, penggunakan kata (dialog) dan tindakan non verbal lain, hal ini tentunya bertujuan untuk meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan mencapai tujuan. Oleh Goffman, tindakan diatas disebut dalam istilah  impression management”. Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas panggung (“front stage”) dan di belakang panggung (“back stage”) drama kehidupan.  Kondisi akting di front stage adalah adanya penonton (yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku kita. Perilaku kita dibatasi oleh oleh konsep-konsep drama yang bertujuan untuk membuat drama yang berhasil (lihat unsur-unsur tersebut pada impression management diatas). Sedangkan back stage adalah keadaan dimana kita berada di belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton. Sehingga kita dapat berperilaku bebas tanpa mempedulikan plot perilaku bagaimana yang harus kita bawakan.  Contohnya, seorang front liner hotel senantiasa berpakaian rapi menyambut tamu hotel dengan ramah, santun, bersikap formil dan perkataan yang diatur. Tetapi, saat istirahat siang, sang front liner bisa bersikap lebih santai, bersenda gurau dengan bahasa gaul dengan temannya atau bersikap tidak formil lainnya (merokok, dsb).  Saat front liner menyambut tamu hotel, merupakan saat front stage baginya (saat pertunjukan). Tanggung jawabnya adalah menyambut tamu hotel dan memberikan kesan baik hotel kepada tamu tersebut. Oleh karenanya, perilaku sang front liner juga adalah perilaku yang sudah digariskan skenarionya oleh pihak manajemen hotel.  Saat istirahat makan siang, front liner bebas untuk mempersiapkan dirinya menuju babak ke dua dari pertunjukan tersebut. Karenanya, skenario yang disiapkan oleh manajemen hotel adalah bagaimana sang front liner tersebut dapat refresh untuk menjalankan perannya di babak selanjutnya.  Sebelum berinteraksi dengan orang lain, seseorang pasti akan mempersiapkan perannya dulu, atau kesan yang ingin ditangkap oleh orang lain. Kondisi ini sama dengan apa yang dunia teater katakan sebagai “breaking character”. Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat yang mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak kehidupan. Masyarakat yang tinggal dalam komunitas heterogen perkotaan, menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai komunitas yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya. Begitu juga dengan masyarakat homogen pedesaan, menciptakan panggung-panggung sendiri melalui interaksinya, yang terkadang justru membentuk proteksi sendiri dengan komunitas lainnya. Apa yang dilakukan masyarakat melalui konsep permainan peran adalah realitas yang terjadi secara alamiah dan berkembang sesuai perubahan yang berlangsung dalam diri mereka. Permainan peran ini akan berubah-rubah sesuai kondisi dan waktu berlangsungnya. Banyak pula faktor yang berpengaruh dalam permainan peran ini, terutama aspek sosial psikologis yang melingkupinya. 

KRITIK TERHADAP DRAMATURGI

Dramarturgi hanya dapat berlaku di institusi total

 Institusi total maksudnya adalah institusi yang memiliki karakter dihambakan oleh sebagian kehidupan atau keseluruhan kehidupan dari individual yang terkait dengan institusi tersebut, dimana individu ini berlaku sebagai sub-ordinat yang mana sangat tergantung kepada organisasi dan orang yang berwenang atasnya. Ciri-ciri institusi total antara lain dikendalikan oleh kekuasan (hegemoni) dan memiliki hierarki yang jelas.  Contohnya, sekolah asrama yang masih menganut paham pengajaran kuno (disiplin tinggi), kamp konsentrasi (barak militer), institusi pendidikan, penjara, pusat rehabilitasi (termasuk didalamnya rumah sakit jiwa, biara, institusi pemerintah, dan lainnya.  Dramaturgi dianggap dapat berperan baik pada instansi-instansi yang menuntut pengabdian tinggi dan tidak menghendaki adanya “pemberontakan”. Karena di dalam institusi-institusi ini peran-peran sosial akan lebih mudah untuk diidentifikasi. Orang akan lebih memahami skenario semacam apa yang ingin dimainkan.   Bahkan beberapa ahli percaya bahwa teori ini harus dibuktikan dahulu sebelum diaplikasikan. 
 Menihilkan “kemasyarakatan”
 Teori ini juga dianggap tidak mendukung pemahaman bahwa dalam tujuan sosiologi ada satu kata yang seharusnya diperhitungkan, yakni kekuatan “kemasyarakatan”. Bahwa tuntutan peran individual menimbulkan clash bila berhadapan dengan peran kemasyarakatan. Ini yang sebaiknya dapat disinkronkan.  
 Dianggap condong kepada Positifisme 
 Dramaturgi dianggap terlalu condong kepada positifisme[4]. Penganut paham ini menyatakan adanya kesamaan antara ilmu sosial dan ilmu alam, yakni aturan. Aturan adalah pakem yang mengatur dunia sehingga tindakan nyeleneh atau tidak dapat dijelaskan secara logis merupakan hal yang tidak patut.  

ANALISA DRAMATURGI

Dramaturgis masuk dalam Perspektif Obyektif 
Dramaturgis dianggap masuk ke dalam perspektif obyektif karena teori ini cenderung melihat manusia sebagai makhluk pasif (berserah). Meskipun, pada awal ingin memasuki peran tertentu manusia memiliki kemampuan untuk menjadi subyektif (kemampuan untuk memilih) namun pada saat menjalankan peran tersebut manusia berlaku objektif, berlaku natural, mengikuti alur. Misalnya, pada kasus Kekerasan pada Rumah Tangga (“KDRT”), saat perilaku kekerasan itu hendak terjadi, korban sebenarnya memiliki pilihan, berserah diri atau melakukan perlawanan. Bila ia memberontak maka konsekuensinya adalah ini dan bila ia pasrah maka akibatnya seperti itu. Proses subyektif ini akan beralih menjadi obyektif saat ia menjalani peran yang dipilihnya tersebut. Misalnya yang ia ambil adalah pasrah karena ia takut kalau ia melarikan diri konsekuensinya lebih parah, atau ia merasa terlalu tergantung kepada tersangka dan mengkhawatirkan nasih anaknya bila ia melawan. Maka, setelah itu ia akan menjalani perannya sebagai korban. Secara naluriah ia akan menutupi bagian tubuhnya yang mungkin menjadi sasaran kekerasan. Atau ia berusaha untuk menutupi telinganya untuk melindungi mental dan psikologisnya. Itulah mengapa dramaturgi di sebut memiliki muatan objektif. Karena pelakunya, menjalankan perannya secara natural, alamiah mengetahui langkah-langkah yang harus dijalani.
 Pendekatan Keilmuan Little John – Pendekatan Scientific (ilmiah – empiris)
Seperti telah dijabarkan diatas, Dramaturgis merupakan teori yang mempelajari  proses dari perilaku dan bukan hasil dari perilaku. Ini merupakan asas dasar dari penelitian-penelitian yang menggunakan pendekatan scientific[5].Obyektifitas yang digunakan disini adalah karena institusi tempat dramaturgi berperan adalah memang institusi yang terukur dan membutuhkan peran-peran yang sesuai dengan semangat institusi tersebut. Institusi ini kemudian yang diklaim sebagai institusi total sebagaimana telah dijabarkan sebelumnya. Bahwa hasil dari peranan itu sesungguhnya, bila proses (rumusnya) dijalankan sesuai dengan standar observasi dan konsistensi maka bentuk akhirnya adalah sama. Contohnya, bila seorang pengajar mempraktekkan cara mengajar sesuai dengan template perguruan tinggi maka kualitas keluaran perguruan tinggi tersebut akan menghasilkan kualitas yang bisa dikatakan relatif sama. Atau untuk contoh front liner hotel diatas, bila front liner dapat memainkan skenario penyambutan tamu manajemen hotel, niscaya tamu akan merasa dihargai, dihormati, senang dan bersedia untuk datang menginap kembali di hotel tersebut.     


[1] Frase ini berasal dari bahasa Latin yang secara bahsa berarti Tuhan keluar membantu. Hal ini menunjuk pada karakter buatan, imajiner, alat ataupun peristiwa yang tiba-tiba saja terjadi atau ada dalam sebuah pertunjukan fiksi atau drama sebagai jalan keluar dari sebuah situasi atau plot yang sulit (contohnya, tiba-tiba ada ibu peri yang muncul untuk menolong Cinderella supaya bisa datang ke pesta dansa di istana).  
[2] Aristoteles mengartikan kata ini sebagai “perubahan perilaku dari acuh menjadi butuh karena perkembangan cerita (mengetahui yang sesungguhnnya), tumbuhnya rasa cinta atau benci yang timbul antar karakter yang ditakdirkan oleh alur cerita”. Contohnya, pangeran dalam cerita Cinderella sebelum tidak peduli pada gadis-gadis yang memiliki sepatu kaca, tapi begitu ia mengetahui bahwa gadis misteriusnya memakai sepatu kaca, maka ia mencari gadis-gadis yang muat dengan sepatu kacanya.  
[3] Kata ini mengacu kepada sensasi, atau efek turut terbawanya alur cerita ke dalam hati. Perasaan ini seyogyanya muncul di hati para penonton seusai menonton drama yang mengena. (contohnya, turut menangis,tertawa, atau perasaan iba terhadap karakter drama). 
[4] Positifisme dirunut dari asalnya berasal dari pemikiran Auguste Comte pada abad ke 19. Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains.
[5] Menurut pandangan ini ilmu diasosiasikan dengan objektivitas. Objektivitas yang dimaksudkan di sini adalah objektivitas yang menekankan prinsip standardisasu observasi dan kosistensi. Landasan philosofisnya adalah bahwa dunia ini pada dasarnya mempunyai bentuk dan struktur.